Selasa, 22 November 2016

PERANAN EKONOMI KESEHATAN DALAM PENINGKATAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Nama              : Vitha A.Lontaan
Nim                 : 14111101078
Kelas              : Administrasi Kebijakan Kesehatan
Mata Kuliah : Ekonomi Kesehatan


PERANAN EKONOMI KESEHATAN DALAM PENINGKATAN PERTUMBUHAN EKONOMI

1.      LATAR BELAKANG
Dalam ekonomi kesehatan dan pembangunan akan di bahas mengenai masalah keterkaitan antara pembangunan kesehatan dengan pembangunan ekonomi, masalah pembiayaan pembanguan kesehatan, penyusunan anggaran kesehatan serta persoalan pencatatan mata anggaran kesehatan. Peranan kesehatan terhadap kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan dalam mengisolasikan peranan factor lainnya alasan pentingnya peranan kesehatan dalam menentukan tingkat produktifitas manusia dengan menyadur beberapa  bukti empiris beserta hasil empiris serta menyimpulkan bahwa derajat kesehatan sangat berpengaruh.
Peranan pembangunan ekonomi terhadap peningkatan derajad kesehatan memperoleh dua hasil. Pertama, dari bukti empiris terlihat bahwa pembangunan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap penurunan tingkat kematian bayi, atau  IMR. Yang kedua penurunan IMR pada akibatnya akan membawa akibat adanya peningkatan jumlah penduduk yan belum tentu berdampak positif terhadap proses pembangunan ekonomi selanjutnya.
Dengan menyadari kelemahan tersebut, maka harus dilakukannya analisis biaya-manfaat untuk menentukan kriteria pembangunan seperti apa yang sebaiknya diambil sehingga hasilnya akan mengarah pada sasaran yang dimaksud.


2.      PEMBAHASAN
Aspek ekonomi kesehatan dari pelayanan kesehatan memperkenalkan hubungan antara kesehatan dan pelayanan kesehatan dengan menggunkan terminologi ekonomi yang akan menjabarkan konsep value dalam ilmu ekonomi serta menguraikan beberapa prinsip dasar teori expected mutility yang merupakan landasan pokok ilmu ekonomi neo klasik. Aspek ekonomi kesehatan dari pelayanan kesehatan mendapaykan suatu lingkup batas yang dapat menunjukan manfaat relevansi teori expected mutility dalam menerangkap dalam masalah pelayanan kesehatan.

a.   Kesehatan dan pelayanan kesehatan sebagai komunidity ekonomi.
Dari sudut pandang ekonomi, hal ini pnting demi mengingat bahwa ilmu ekonomi akan selalu mengarah kepada demand, suppuly dan distribusi komunidity di mana komudity adalah pelayanan kesehatan bukan kesehatan nya sendiri. Kesehatan sendiri tidak dapat di perjual beikan, dalam pengertian bahwa kesehatan itu tidak dapat secara langsung di beli atau di jual di pasar. Oleh karna itu kesehatan hanya merupakan salah satu ciri komudity. Kegitan kesehatan merupakam salah satu karakteristik, dari pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi dan sebagainya.
Menurut Mill kesehatan dan pelayanan kesehatan hanya memiliki value in use dan bukannya value in ex change.pada umunya keadaan itu oleh konsumen yang dalam hal ini adalah pasien, hanya dapat di tujukkan oleh suatu tingkat totalitas tertentu, misalnya perubahan dari status kesehatannya. Kesehatan sendiri tidak dapat di perjual belika (not tradiable) dengan demikian berarti kesehatan bukanlah suatu komudity sedangkan pelayanan kesehatan adalah suatu komudity. Dengan bekal pengertian tersebut dan di gabung dengan pokok perhatian para ekonom tentang value of change, maka pokok persoalan bukan pada kesehatan tetapi pada pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai komudity namun hal itu tidak berarti bahwa analisis ekonomi akan mengabaikan persoalan kesehatan. Misalnya seperti yang di ungkapkan oleh Wiliiams (1977) bahwa memberi batasan kesehatan merupakan penampilan yang penting dari ilmu ekonomi kesehatan. Dalam analisis ekonomi perlu bekerja dengan definisi yang banyak yang berhubungan dengan fungsi social dan sikap budaya terhadap sakit, dari pada dengan pertimbangan biomedis. Jelas bahwa pengukuran kesehatan merupakan satu aspek penting dari ilmu ekonomi kesehatan.
Dari sudut pandang supply produksi yang terpenting dari pelayanan kesehatan adalah kesehatan dan sekaligus akan menghasilkan pula output lainnya. Dari sudut pandang demand, masyarakat ingin memperbaiki status kesehatanyam sehingga meeka memerlukan pelayanan kesehatan sebagai salah satu cara untuk mencapai status kesehatan yang lebih tinggi. Alasan mengapa masyarakat memerlukan status kesehatan yang lebih baik karna didorong oleh adanya keinginan untuk dapat menikmati hidup yang sebaik mungkin di bandingkan bila mereka mengalami gangguan kesehatan.
Hubungan antar keinganan sehat dan permintaan akan pelayanan kesehatan sangat kompleks disebabkan karena adanya persoalan kesenjangan informasi aspek yang menyangkut status kesehatan saat ini tentang status kesehatan yang membaik, informasi tentang macam perawatan yangn tersedia, dan efektifitas pelayanan tersebut. Semunya itu disebabkan karena permintaan pelayanan kesehatan mengandung masalah uncertainty (ketidakpastian). Arrow menerangkan bahwa para ahli kesehatanlah yang sebenarnya secara aktif untuk menyebarkan informasi tentang pelayanan kesehatan lengkap dengan segla kelebihan dan kekurangannya kepada seluruh lapisan masyarakat. Dari informasi yang mereka sebarkan itu masyarakat kemudian terpengaruh untuk melakukan permintaan dan penggunaan (utilisasi) pelayanan kesehtan (Arrow, 1963).
Ketidakpastian ditimbulkan oleh ketidaktahuan mengenai status kesehatan, ketersediaan dan efektifitas perwatan dan sebagainya. Karena pengambilan keputusan mengenai perawatan mana yang akan dia pilih menjadi sulit dilakukan kesulitan itu berawal dari adanya ras khawatir melakukan kesalahan yang akan  membaw akibat fatal bagi kehidupan si pelaku pemilih. Persoalan informasi dan pengambilan keputusan ini merupakan masalah pokok dalam teori agensi agency relationship teori ini pada dasarnya menyebutkan bahwa dokterlah yang melakukan bagi kebutuhan pasiennya (Efands, 1971).

b.      Dasar teori utility
Prinsip dari teori expected utility mengacu kepada suatu kondisi dimana seorang pelaku ekonomi yang rasional di hadapkan kepada sejumlah kemungkinan sebagai konsumen mempunyai posisi sovereignty. Secara tradisional rasionalitas seperti ini di dasari oleh beberapa aksioma sebagai berikut :
1.      Aksioma tentang completeness. Di sini konsumen dianggap mampu membuat urutan setiap kemungkinan urutan setiap kombinasi barang dan jasa disesuaikan dengan preferensi si konsumen.
2.      Aksioma tentang transivity. Di sini di nyatakan bahwa bila konsumen lebih menyukai A dari pada B dan kemudin bila ternyata dia juga lebih menyukai B dari pada C, maka tidak boleh konsumen tersebut akan menyukai A dari pada C.
3.      Aksioma tentang seleksi di sini konsumen akan selalu mencoba untuk mencapai kondisi yang paling dinginkan.
Ada beberapa asumsi.

c.      Karakteristik komuditi kesehatan.
Dalam konsumsi kesehatan apa yang di asumsikan denga teori expected utility tentang consumer’s sovereignty banyak yang gagal alam pelayanan kesehatan distribusi property rights dalam pengambilan keputusan sering kali berbeda dengan yang di asumsikan oleh analisis ekonomi.
Sebagian dokter ada yang secara relative lebih bersedia menerima peranan pengambil keputusan bagi pasiennya di banding kan sebaian dokter yang lain. Informasi yang di berikan dokter kepada pasiennya mengenai status kesehtan pasien, jenis pelayanan beserta efektivitasnya akan menempatkan posisi dokter sebagai suplier sekaligus sebagai pihak yang pengaruhnya akan langsung masuk ke dalam fungsi utility si konsumen mengingt masing-masing jenis kesehatan mempunyai pola utilisasi pelayanan kesehtan yang berbeda pada beberapa hal terkadang pemberian informasi malah akan  memberikan beban tambahan kepada pasien apalagi bila di harapan untuk menjadikan informasi tadi sebagai tambahan pengetahuan atau terkadang pemberian informasi kepada pasien malah akan membuat pasien menjadi marah atau tidak senang.
Karena itu sifat komuditi pelayanan kesehatan dapat di pandang sekaligus dai dua sisi pasar (permintaan dan penawaran) yang mencerminka antara apa yang di minta (kesehatan) dan apa yang di sediakan (pelayanan kesehatan) ada dua alasan yang berhubungan dengan masalah informasi. Yang pertama, pelayanan kesehatan sendiri merupakan informasi yang sangat luas. Dengan begitu, saat pasien belum mempunyai informasi, maka di akan mengalami kesulitan membuat urutan prioritas sejumlah komuditi dimana di antaranya pelayanan kesehatan. Kedua, dia harus yakin ketika memutuskan pelayanan kesehatan mana yang akan di konsumsi sebelum dia bisa mempunyai preferensi. Ketiga, melakukan pemilihan seorang pasien akan selalu mengalami kekurangan  informasi untk membuat keputusan status kesehatan mana yang paling ingin di capai. Hal ini tentu tidak hanya tejadi pada komuditi pelayanan kesehatan saja. Namun barang kali sifat kekhususan konuditi pelayanan kesehatan di bandingkan komuftu lainnya. (wiesbrod 1978).
Dari sudut pandang konsumen ketidakpastian akan menyebabkan hilangnya kesejahteraan konsumen sehingga dia cenderung akan mencari asuransi. Kesejahteraan meningkat melalui penyebaran resiko, hilangnya rasa terbelenggu karena tingginya biaya pelayanan kesehatan serta keterbatasan pendapatan untuk menikmati pelayanan kesehatan. Bentuk awal asuransi muncul lebih banyak sebagai akibat dari ketidakpastian kapan orang jatuh sakit dari pada karena ketidakastian efektivitas pelayanan kesehatan karena itu biasanya asuransi mengatasi kesulitan pembiayaan dan mengabaikan efektivitas pelayanannya sendiri, kecuali bila ketidakefektivan tadi akibat dari malah praktek. Dengan memperhatikan hilangnya kesejahteraan orang akan meminta asuransi yang besar. (arrow 1963).
Persoalan lain muncul sejalan dengan meningkatnya asuransi kesehatan. Dampak negative itu biasanya disebut sebagai moral hazard. Moral hazard mempunyai dua bentuk. Pertama, konsumen yang merasa tidak ada beban biaya apapun pada saat melakukan konsumsi komoditi pelayanan kesehatan akan cenderung menggunakan pelayanan yang berlebihan yang menimbulkan ketidakefesienan. Yang dua, produsen yang mengetahui bahwa konsumennya dilindungi oleh asuransi kesehatan cenderung akan menginstruksikan prnggunaan pelayanan kesehatan yang semestinya tidak di perlukan.


3.      KESIMPULAN
Ketidaksempurnaan informasi mengenai pelayanan kesehatan itu tidak hanya berkaitan dengan memilih jenis pelayanan kesehatannya saja akan tetapi secra luas berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kapan kita memerlukan pelayanan kesehatan dimana saja pelayanan kesehatannya sesuai dengan kebutuhan kita tersedia, bagaimana efektivitas pelayanan tersebut, apa pengaruh dari pelayanan yang kita pilih, alternative pelayanan yang tersedia sebagi gantinya serta banyak lagi persoalan yang ada dibalik informasi tersebut.. Dalam analisis ekonomi perlu bekerja dengan definisi yang banyak yang berhubungan dengan fungsi social dan sikap budaya terhadap sakit, dari pada dengan pertimbangan biomedis. . Bentuk awal asuransi muncul lebih banyak sebagai akibat dari ketidakpastian kapan orang jatuh sakit dari pada karena ketidakastian efektivitas pelayanan kesehatan karena itu biasanya asuransi mengatasi kesulitan pembiayaan dan mengabaikan efektivitas pelayanannya sendiri, kecuali bila ketidakefektivan tadi akibat dari malah praktek






DAFTAR PUSTAKA
Tjiptoherijanto, Prijono (2008), Ekonomi Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta