Nama : Vitha A.Lontaan
Nim : 14111101078
Kelas : Administrasi Kebijakan Kesehatan
Mata Kuliah : Ekonomi Kesehatan
PERANAN
EKONOMI KESEHATAN DALAM PENINGKATAN PERTUMBUHAN EKONOMI
1. LATAR
BELAKANG
Dalam ekonomi kesehatan
dan pembangunan akan di bahas mengenai masalah keterkaitan antara pembangunan
kesehatan dengan pembangunan ekonomi, masalah pembiayaan pembanguan kesehatan,
penyusunan anggaran kesehatan serta persoalan pencatatan mata anggaran kesehatan.
Peranan kesehatan terhadap kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan dalam
mengisolasikan peranan factor lainnya alasan pentingnya peranan kesehatan dalam
menentukan tingkat produktifitas manusia dengan menyadur beberapa bukti empiris beserta hasil empiris serta
menyimpulkan bahwa derajat kesehatan sangat berpengaruh.
Peranan pembangunan
ekonomi terhadap peningkatan derajad kesehatan memperoleh dua hasil. Pertama,
dari bukti empiris terlihat bahwa pembangunan ekonomi mempunyai pengaruh
terhadap penurunan tingkat kematian bayi, atau
IMR. Yang kedua penurunan IMR pada akibatnya akan membawa akibat adanya
peningkatan jumlah penduduk yan belum tentu berdampak positif terhadap proses pembangunan
ekonomi selanjutnya.
Dengan menyadari
kelemahan tersebut, maka harus dilakukannya analisis biaya-manfaat untuk
menentukan kriteria pembangunan seperti apa yang sebaiknya diambil sehingga
hasilnya akan mengarah pada sasaran yang dimaksud.
2. PEMBAHASAN
Aspek ekonomi kesehatan
dari pelayanan kesehatan memperkenalkan hubungan antara kesehatan dan pelayanan
kesehatan dengan menggunkan terminologi ekonomi yang akan menjabarkan konsep
value dalam ilmu ekonomi serta menguraikan beberapa prinsip dasar teori
expected mutility yang merupakan landasan pokok ilmu ekonomi neo klasik. Aspek
ekonomi kesehatan dari pelayanan kesehatan mendapaykan suatu lingkup batas yang
dapat menunjukan manfaat relevansi teori expected mutility dalam menerangkap
dalam masalah pelayanan kesehatan.
a. Kesehatan
dan pelayanan kesehatan sebagai komunidity ekonomi.
Dari sudut pandang
ekonomi, hal ini pnting demi mengingat bahwa ilmu ekonomi akan selalu mengarah
kepada demand, suppuly dan distribusi komunidity di mana komudity adalah
pelayanan kesehatan bukan kesehatan nya sendiri. Kesehatan sendiri tidak dapat
di perjual beikan, dalam pengertian bahwa kesehatan itu tidak dapat secara
langsung di beli atau di jual di pasar. Oleh karna itu kesehatan hanya
merupakan salah satu ciri komudity. Kegitan kesehatan merupakam salah satu
karakteristik, dari pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi dan sebagainya.
Menurut Mill kesehatan
dan pelayanan kesehatan hanya memiliki value in use dan bukannya value in ex
change.pada umunya keadaan itu oleh konsumen yang dalam hal ini adalah pasien,
hanya dapat di tujukkan oleh suatu tingkat totalitas tertentu, misalnya
perubahan dari status kesehatannya. Kesehatan sendiri tidak dapat di perjual
belika (not tradiable) dengan demikian berarti kesehatan bukanlah suatu
komudity sedangkan pelayanan kesehatan adalah suatu komudity. Dengan bekal
pengertian tersebut dan di gabung dengan pokok perhatian para ekonom tentang
value of change, maka pokok persoalan bukan pada kesehatan tetapi pada
pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai komudity namun hal itu tidak berarti
bahwa analisis ekonomi akan mengabaikan persoalan kesehatan. Misalnya seperti
yang di ungkapkan oleh Wiliiams (1977) bahwa memberi batasan kesehatan
merupakan penampilan yang penting dari ilmu ekonomi kesehatan. Dalam analisis
ekonomi perlu bekerja dengan definisi yang banyak yang berhubungan dengan
fungsi social dan sikap budaya terhadap sakit, dari pada dengan pertimbangan
biomedis. Jelas bahwa pengukuran kesehatan merupakan satu aspek penting dari
ilmu ekonomi kesehatan.
Dari sudut pandang supply
produksi yang terpenting dari pelayanan kesehatan adalah kesehatan dan
sekaligus akan menghasilkan pula output lainnya. Dari sudut pandang demand,
masyarakat ingin memperbaiki status kesehatanyam sehingga meeka memerlukan
pelayanan kesehatan sebagai salah satu cara untuk mencapai status kesehatan
yang lebih tinggi. Alasan mengapa masyarakat memerlukan status kesehatan yang
lebih baik karna didorong oleh adanya keinginan untuk dapat menikmati hidup yang
sebaik mungkin di bandingkan bila mereka mengalami gangguan kesehatan.
Hubungan antar keinganan
sehat dan permintaan akan pelayanan kesehatan sangat kompleks disebabkan karena
adanya persoalan kesenjangan informasi aspek yang menyangkut status kesehatan
saat ini tentang status kesehatan yang membaik, informasi tentang macam
perawatan yangn tersedia, dan efektifitas pelayanan tersebut. Semunya itu
disebabkan karena permintaan pelayanan kesehatan mengandung masalah uncertainty
(ketidakpastian). Arrow menerangkan bahwa para ahli kesehatanlah yang
sebenarnya secara aktif untuk menyebarkan informasi tentang pelayanan kesehatan
lengkap dengan segla kelebihan dan kekurangannya kepada seluruh lapisan
masyarakat. Dari informasi yang mereka sebarkan itu masyarakat kemudian
terpengaruh untuk melakukan permintaan dan penggunaan (utilisasi) pelayanan
kesehtan (Arrow, 1963).
Ketidakpastian
ditimbulkan oleh ketidaktahuan mengenai status kesehatan, ketersediaan dan
efektifitas perwatan dan sebagainya. Karena pengambilan keputusan mengenai
perawatan mana yang akan dia pilih menjadi sulit dilakukan kesulitan itu
berawal dari adanya ras khawatir melakukan kesalahan yang akan membaw akibat fatal bagi kehidupan si pelaku
pemilih. Persoalan informasi dan pengambilan keputusan ini merupakan masalah
pokok dalam teori agensi agency relationship teori ini pada dasarnya menyebutkan
bahwa dokterlah yang melakukan bagi kebutuhan pasiennya (Efands, 1971).
b. Dasar
teori utility
Prinsip dari teori
expected utility mengacu kepada suatu kondisi dimana seorang pelaku ekonomi
yang rasional di hadapkan kepada sejumlah kemungkinan sebagai konsumen
mempunyai posisi sovereignty. Secara
tradisional rasionalitas seperti ini di dasari oleh beberapa aksioma sebagai
berikut :
1. Aksioma
tentang completeness. Di sini
konsumen dianggap mampu membuat urutan setiap kemungkinan urutan setiap
kombinasi barang dan jasa disesuaikan dengan preferensi si konsumen.
2. Aksioma
tentang transivity. Di sini di
nyatakan bahwa bila konsumen lebih menyukai A dari pada B dan kemudin bila
ternyata dia juga lebih menyukai B dari pada C, maka tidak boleh konsumen
tersebut akan menyukai A dari pada C.
3. Aksioma
tentang seleksi di sini konsumen akan selalu mencoba untuk mencapai kondisi
yang paling dinginkan.
Ada beberapa asumsi.
c. Karakteristik
komuditi kesehatan.
Dalam konsumsi kesehatan
apa yang di asumsikan denga teori expected utility tentang consumer’s sovereignty banyak yang gagal alam pelayanan kesehatan
distribusi property rights dalam pengambilan keputusan sering kali berbeda
dengan yang di asumsikan oleh analisis ekonomi.
Sebagian dokter ada yang
secara relative lebih bersedia menerima peranan pengambil keputusan bagi
pasiennya di banding kan sebaian dokter yang lain. Informasi yang di berikan
dokter kepada pasiennya mengenai status kesehtan pasien, jenis pelayanan
beserta efektivitasnya akan menempatkan posisi dokter sebagai suplier sekaligus
sebagai pihak yang pengaruhnya akan langsung masuk ke dalam fungsi utility si
konsumen mengingt masing-masing jenis kesehatan mempunyai pola utilisasi
pelayanan kesehtan yang berbeda pada beberapa hal terkadang pemberian informasi
malah akan memberikan beban tambahan
kepada pasien apalagi bila di harapan untuk menjadikan informasi tadi sebagai
tambahan pengetahuan atau terkadang pemberian informasi kepada pasien malah
akan membuat pasien menjadi marah atau tidak senang.
Karena itu sifat komuditi
pelayanan kesehatan dapat di pandang sekaligus dai dua sisi pasar (permintaan
dan penawaran) yang mencerminka antara apa yang di minta (kesehatan) dan apa
yang di sediakan (pelayanan kesehatan) ada dua alasan yang berhubungan dengan
masalah informasi. Yang pertama, pelayanan kesehatan sendiri merupakan
informasi yang sangat luas. Dengan begitu, saat pasien belum mempunyai
informasi, maka di akan mengalami kesulitan membuat urutan prioritas sejumlah
komuditi dimana di antaranya pelayanan kesehatan. Kedua, dia harus yakin ketika
memutuskan pelayanan kesehatan mana yang akan di konsumsi sebelum dia bisa
mempunyai preferensi. Ketiga, melakukan pemilihan seorang pasien akan selalu
mengalami kekurangan informasi untk
membuat keputusan status kesehatan mana yang paling ingin di capai. Hal ini
tentu tidak hanya tejadi pada komuditi pelayanan kesehatan saja. Namun barang
kali sifat kekhususan konuditi pelayanan kesehatan di bandingkan komuftu
lainnya. (wiesbrod 1978).
Dari sudut pandang
konsumen ketidakpastian akan menyebabkan hilangnya kesejahteraan konsumen
sehingga dia cenderung akan mencari asuransi. Kesejahteraan meningkat melalui
penyebaran resiko, hilangnya rasa terbelenggu karena tingginya biaya pelayanan
kesehatan serta keterbatasan pendapatan untuk menikmati pelayanan kesehatan.
Bentuk awal asuransi muncul lebih banyak sebagai akibat dari ketidakpastian
kapan orang jatuh sakit dari pada karena ketidakastian efektivitas pelayanan
kesehatan karena itu biasanya asuransi mengatasi kesulitan pembiayaan dan
mengabaikan efektivitas pelayanannya sendiri, kecuali bila ketidakefektivan
tadi akibat dari malah praktek. Dengan memperhatikan hilangnya kesejahteraan
orang akan meminta asuransi yang besar. (arrow 1963).
Persoalan lain
muncul sejalan dengan meningkatnya asuransi kesehatan. Dampak negative itu
biasanya disebut sebagai moral hazard. Moral hazard mempunyai dua bentuk.
Pertama, konsumen yang merasa tidak ada beban biaya apapun pada saat melakukan
konsumsi komoditi pelayanan kesehatan akan cenderung menggunakan pelayanan yang
berlebihan yang menimbulkan ketidakefesienan. Yang dua, produsen yang
mengetahui bahwa konsumennya dilindungi oleh asuransi kesehatan cenderung akan
menginstruksikan prnggunaan pelayanan kesehatan yang semestinya tidak di
perlukan.
3. KESIMPULAN
Ketidaksempurnaan
informasi mengenai pelayanan kesehatan itu tidak hanya berkaitan dengan memilih
jenis pelayanan kesehatannya saja akan tetapi secra luas berkaitan dengan
pertanyaan-pertanyaan mengenai kapan kita memerlukan pelayanan kesehatan dimana
saja pelayanan kesehatannya sesuai dengan kebutuhan kita tersedia, bagaimana
efektivitas pelayanan tersebut, apa pengaruh dari pelayanan yang kita pilih,
alternative pelayanan yang tersedia sebagi gantinya serta banyak lagi persoalan
yang ada dibalik informasi tersebut.. Dalam analisis ekonomi perlu bekerja
dengan definisi yang banyak yang berhubungan dengan fungsi social dan sikap
budaya terhadap sakit, dari pada dengan pertimbangan biomedis. . Bentuk awal
asuransi muncul lebih banyak sebagai akibat dari ketidakpastian kapan orang
jatuh sakit dari pada karena ketidakastian efektivitas pelayanan kesehatan
karena itu biasanya asuransi mengatasi kesulitan pembiayaan dan mengabaikan
efektivitas pelayanannya sendiri, kecuali bila ketidakefektivan tadi akibat
dari malah praktek
DAFTAR PUSTAKA
Tjiptoherijanto,
Prijono (2008), Ekonomi Kesehatan. Rineka
Cipta, Jakarta